Mading – Blok Politik Pelajar

Kebakaran di Taman Nasional Komodo Bakal Terus Terjadi?

Komodo di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, NTT.

Selasa awal November lalu, Pulau Rinca di kawasan Taman Nasional Komodo Labuan Bajo (TNK), Nusa Tenggara Timur mengalami kebakaran. Pemadamannya membutuhkan waktu yang sangat lama oleh Jagawana Bualai Taman Nasional Komodo dan warga setempat.

Sudah hampir sebulan, penyebab pasti kebakaran yang terjadi di Loh Serai SPTN Wilayah I BTNK, belum kunjung dirilis. Tetapi dugaan pihak balai taman nasional, penyebabnya adalah cuaca yang sangat kering dan panas. Sementara video di Twitter yang diunggah @KawanBaikKomodo mengatakan dugaan lainnya: tersambar petir.

Tidak jelas kondisi cuaca di sana seperti apa. Sementara tidak ada kajian dari pihak balai terkait penyebab kebakaran yang disertai laporan cuaca yang semestinya bekerjasama dengan BMKG. Padahal lingkungan dapat berpengaruh pada Komodo yang hidup di dalamnya, dan berjuang dari jurang kepunahan.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Pertama, Taman Nasional Komodo sempat terbakar pada Agustus 2018, yang lagi-lagi masih diduga karena kelalaian pengunjung yang menyambangi Gili Lawa. Kedua, Agustus 2020 kebakaran juga melanda habitat komodo di Cagar Alam Wae Wuul yang menghanguskan 17 hektar.

Sebelum yang terbaru, tepatnya 7 dan 8 Agustus kebakaran menghanguskan Taman Nasional Komodo di Laju Pemali, Pulau Komodo. Sekali lagi, pihak balai belum jelas mengabarkan faktor penyebabnya hingga kini.

Pendapat hasil yang tidak kunjung inilah yang diherankan oleh Direktur Eksekutif WALHI NTT Umbu Wulang T.A Paranggi. Dia menyarankan, sebaiknya pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang berwenang di taman nasional, seharusnya bisa mengantisipasi kebakaran.

“Mereka terus menyebut kebakaran hutan disebabkan cuaca yang panas atau faktor alam lainnya, tetapi tidak pernah jelas memunculkan ke publik dengan jelas hasil investigasinya,” terangnya di National Geographic Indonesia.

“Jika benar demikian, seharusnya juga ada kerja sama lintas lembaga, misal dengan BMKG agar memprediksi dan melakukan langkah pencegahan.”

Direktur WALHI NTT Umbu Wulang T.A Paranggi (VIVA Timur)
Direktur WALHI NTT Umbu Wulang T.A Paranggi (VIVA Timur)

Sementara, kebakaran di sekitar Taman Nasional Komodo diprediksikan akan terjadi lagi akibat perubahan iklim. Sebagaimana dalam kajian di Ecology and Evolution, September 2020 oleh Universitas Adelaide bersama Komodo Survival Indonesia, ancaman ini perlahan membuat Komodo diprediksikan punah pada 2050.

“Model kami memprediksi bahwa komodo di Flores akan punah di bawah enam skenario iklim masa depan yang masuk akal jika tidak ada intervensi pengelolaan konservasi lebih lanjut,” tulis mereka.

“Transformasi vegetasi ini kemungkinan akan berdampak negatif pada komodo dengan mengubah habitat dan ketersediaan mangsa yang berdampak pada kelangsungan hidup dan reproduksi.”

Sementara, pembangunan di Taman Nasional Komodo juga berlanjut. Pembangunan yang mengganggu keberlangsungan para Komodo ini mendapat sorotan dan teguran dari UNESCO. Teguran ini mendapat apresiasi dari Umbu, sebagaimana yang dilansir di Kompas.com Agustus lalu.

“Kami mengapresiasi sikap konsisten dari UNESCO untuk melindungi Kawasan Man and Biosphere Taman Nasional Komodo dan juga sebagai kawasan heritage ya,” katanya. Dia menghimbau agar UNESCO bisa ikut turun ke lapangan agar memantau situasi yang terjadi di sana.

“UNESCO sebagai lembaga yang dapat kewenangan itu untuk mengurus heritage di dunia ini, ya sebaiknya turun ke lapangan.” Harapannya, pemerintah bisa menghormati dan menindaklanjuti permintaan dari UNESCO untuk menghentikan aktivitas pembangunan.