Mading – Blok Politik Pelajar

Perlawanan Adalah Hak Milik Semua Rakyat

Barisan rakyat membakar ban di jalan sebagai bentuk protes.

Hari ini perlawanan terhadap rezim pemerintah semakin masif, hal tersebut menjadi sebuah respon terhadap pemerintahan yang kian semena-mena terhadap rakyatnya.

Mulai dari pemberangusan demokrasi seperti pembungkaman, penangkapan, bahkan represifitas negara terhadap mereka yang bersebrangan pandangan terhadap pemerintah, sampai perlakuan korup dan merusak lingkungan yang semakin di legalkan.

Sikap pemerintah yang menunjukkan keberpihakannya bersama para pemilik modal besar atau yang berkuasa semakin terpampang jelas, seperti penggusuran dan pembuat kebijakan yang tak “ramah” bagi rakyat kecil.

Saya rasa telah banyak kajian-kajian yang telah menunjukkan betapa kejamnya pemerintah saat ini memperlakukan rakyatnya, jadi saya tak perlu menerangkan Kembali hal tersebut. Bahkan mungkin membahasnya selama satu pekan pun tak cukup.

Baca Juga: Penghinaan Masyarakat Sipil Terhadap Demokrasi

Perlawanan tersebut muncul dari banyak elemen masyarakat. Seperti mahasiswa, organisasi kepemudaan, Civil Society Organization, pers, buruh, akademisi, komunitas yang memiliki ideologi tertentu, organisasi keagamaan, organisasi masyarakat, pemerhati lingkungan, individu masyarakat, komunitas ojek daring, dan masih banyak lagi.

Setiap elemen masyarakat tersebut memiliki pandangan dan cara masing-masing dalam melawan rezim. Baik berasal dari amarah, hati nurani, maupun dari program kerja periodik.

Perbedaan cara pandang dan cara bergerak tersebut kini semakin terpampang jelas membangun sebuah tembok pembatas di antara mereka dalam melawan kejahatan pemerintah saat ini. Bahkan, Sebagian elemen tidak mau mendukung elemen lain dalam proses melawan apabila tidak sesuai agendanya.

Memandang sebelah mata agenda sekelompok masyarakat yang memiliki pemahaman dengannya. Padahal begitu cara demokrasi bekerja bukan?

Protes rakyat yang masih rancu substansinya
Protes rakyat yang masih rancu substansinya (Credit: Rakyat)

Begitu ada seruan aksi mencuat dari salah satu elemen masyarakat tertentu akan muncul pertanyaan sinis dari kelompok atau elemen masyarakat lain, bahkan mendeskreditkannya. Muncul narasi “Itu kan agenda mereka, kita enggak usah ikut atau bantu”.

Sikap tersebut menimbulkan pertanyaan, siapkah kita berdemokrasi dengan bermacam-macamnya pemahaman masyrakat bangsa ini? Padahal Ketika agenda kelompok kita terkena dampak kejahatan rezim ini seperti represifitas dan lain lain, kita menyerukan seruan solidaritas kepada semua kelompok. Timbul pertanyaan lagi, apakah kita sudah bersolidaritas sebelum mengharapkan solidaritas dari elemen masyarakat lain?

Kalau yang dilawan itu pemerintah lalim kenapa tak kita dukung? Yang dilawan sama kan? Sikap abai terhadap bermacam-macamnya bentuk perlawanan oleh berbagai individu dan kelompok lain terhadap kejahatan rezim, sama saja dengan melanggengkan rezim ini terus melakukan kekejiannya.

Baca Juga: Saat Krisis, Demonstrasi Biasa Tak Lagi Berguna

Tidak perlu lagi muncul kekhawatiran adanya penumpang gelap dalam pergerakan. Pergerakan ibarat bus umum yang memiliki trayeknya, dan semua rakyat adalah penumpangnya. Terkait apakah gelap tidaknya satu-dua penumpang, itu relatif. Bisa saja, saya adalah penumpang gelap di mata kalian, dan kalian saya anggap penumpang gelap.

Tapi bukan itu poinnya. Bus pergerakan ini akan mengantarkan kita pada tujuan kita masing-masing dengan trayeknya. Yang pertlu ditanyakan pada diri sendiri adalah mengapa kalian menggunakan bus ini, bila ada yang dianggap penumpang gelap? Kalian sudah yakin bahwa butus ada bus untuk mengantarkan kalian pada tujuan, tapi masih saja enggan untuk duduk di dalam kursi bersama massa lainnya hanya perkara “ah itu beda halte turun dengan kita“.

Saat ini, tanggal 24 nanti, dan hari-hari berikutnya ada banyak bus yang disediakan untuk kalian bergerak. Manfaatkanlah kendaraan itu jika kalian hendak tiba di halte kalian. Api sudah dipantik, dan perlawanan ini milik semua. Setiap individu berhak marah dan berhak melawan. Bukan milik segelintir kelompok.

Penulis: Anak Topik