Mading – Blok Politik Pelajar

[Editorial] Aksi Ini Bukan Demonstrasi

Aksi 24 Juli bukan demonstrasi, tapi untuk meluapkan amarah rakyat.

Salah besar apabila polisi, intel, atau siapa pun mengira aksi 24 Juli besok merupakan sebuah aksi demonstrasi. Jika besok merupakan sebuah aksi demonstrasi, maka tujuan dari turunnya ke jalan dan mendengungkan tuntutan, baik berupa perubahan kebijakan, membuat keputusan tertentu, atau protes soal tidakan buruk pemerintah.

Tetapi perlu digarisbawahi bahwa yang menjadi tujuan aksi besok, 24 Juli akan dikenang sebagai bentuk saluran amarah dan menjadi nyala api yang dapat membakar kesadaran warga. Tujuan asli untuk aksi besok adalah untuk mendorong mereka untuk berani menyalurkan amarahnya terhadap pemerintah, dan ikut bersama dalam barikade-barikade perlawanan yang sebenarnya telah lama dibangun.

Warga lelah hanya dianggap sebagai prioritas nomor sekian oleh Jokowi, Puan Maharani, dan kroni-kroninya.

Gerakan ini bukan sekedar berbicara tentang menumbangkan rezim yang sedang berkuasa, dan kemudian menggantikannya dengan rezim yang baru. Biarkan masyarakat menentukan secara otonom sebagaimana mestinya kehidupan yang harus dijalani, melalu rapat-rapat kecil hingga rapat-rapat besar dalam bentuk konfederasi.

Baca Juga: Saat Krisis, Demonstrasi Biasa Tak Lagi Berguna

Tidak usah mengharapkan adanya perubahan kebijakan. Tidak usah berharap adanya bantuan sosial yang dikeluarkan untuk kalian. Tidak usah berharap pandemi akan diselesaikan dengan lebih baik.

Kita ingin lebih dari sekedar demokrasi, kita ingin keterlibatan secara langsung dalam setiap pengambilan keputusan tentang hajat hidup kita bersama. Maka, jalan pertama yang harus diambil adalah meluapkan amarah kalian di jalan, bahkan termasuk jika kalian ingin mengakhiri rezim yang sedang berkuasa hari ini.

Anda bukan pertama kali yang memberikan saran kepada pemerintah. Persetan dengan musyawarah dan audiensi. Sejak sebelum pandemi diumumkan, sudah banyak ahli ekonomi hingga kesehatan yang memberikan saran kepada pemerintah, namun tidak ada yang digunakan. Sudah banyak lembaga swadaya masyarakat dating ke istana memberikan solusi. Sekali lagi, warga tidak diperhitungkan.

Selama anda bukan pemilik modal yang menyumbangkan trilliunan rupiah ke partai politik, anda tidak akan menjadi pihak yang dianggap. Anda bukan orang yang mampu membiayai kongres partai atau mega proyek pemerintah. Sebagus apapun solusi yang anda buat, sepintar apapun presiden kita, tidak akan ada perubahan yang lebih baik.

Baca JugaPenghinaan Masyarakat Sipil Terhadap Demokrasi

Sekali lagi, memberikan solusi bukanlah solusi disaat ini. Sekarang adalah saatnya membalikan keadaan. Tunjukan bahwa masyarakat layak untuk dianggap pemerintah. Tunjukan bahwa justru kita tidak menganggap pemerintah tidak penting.

Dibandingkan demo dengan berbagai tuntutan yang tidak nyambung dan jauh dari masalah aslinya, mari fokuskan ke menyalurkan amarah masyarakat. Yang seharusnya menjadi target gerakan adalah melumpuhkan sentra-sentra ekonomi dan bisnis. Hal tersebut perlu dilakukan karena itulah yang menjadi sumber kekuatan oligarki: pemilik modal dan aliansi predator elit politik-bisnis.

Baca Juga: Perlawanan Adalah Hak Milik Semua Rakyat

Kita sudah lihat bagaimana pemerintah takut ketika halte transjakarta dibakar ketika aksi demonstrasi Omnibus Law tahun lalu. Kita sudah lihat bagaimana pemerintah khawatir dengan kedatangan Habieb Rizieq Shihab yang membludak di bandara Soekarno Hatta tahun lalu. Seharusnya kita sadar, pemerintah takut ketika ekonomi lumpuh dan pemodal mereka tidak mampu memperkaya diri.

Kemarahan masyarakat sudah tidak terhindarkan. Kita semua sudah lelah dengan penanganan pandemi yang tidak jelas dan sama sekali tidak akan kemungkinan situasi akan membaik. Hanya ada dua scenario pandemi akan berhenti di Indonesia: munculnya varian baru yang tidak lebih berbahaya atau berhenti Presiden Jokowi sebagai presiden.

Sekali lagi, kini bukan saatnya menuntut dan meminta hal-hal baik dari pemerintah. Salurkan amarah anda.