Mading – Blok Politik Pelajar

Surat untuk Bapak Presiden Tercinta(?)

Presiden Joko Widodo (Credit: M Sharma via Getty Images)

Indonesia, 1 Juli 2021

Dear, Bpk. Jokowi,

di Istana,

Pak, kemarin-kemarin saya lihat berita dan lini masa saya penuh akan muka bapak. Salah satu yang ramai tuh kemarin, Bapak disebut The King of Lip Service. Lho, apa itu memang benar bapak kayak gitu? Tentu saya tidak akan percaya, mungkin 🙂 .

Tapi sejauh ini, setelah beredar video tanggapan anda terhadap hal itu. Saya salut banget kepada bapak. Bapak bisa lapang dada, dan menerima bahwa label yang disematkan dan juga meme tentang Anda merupakan bentuk kritikan, wow sekali, mantap. Tapi apakah itu bakal kontradiktif dengan perilaku Anda lagi? Hehe.

Maaf, maaf. Bukan seperti itu, saya tidak menghina dan tidak ada maksud. Saya hanya melihat yang sebelum-sebelumnya. Hmm kayak apa ya? Oiya kayak, bapak yang bicara: “Saya, kangen sebetulnya didemo….” Halah, nyatanya saat didemo masih banyak tindakan represif dari para aparatus negara. Dan juga, kemana perginya Anda saat demo Omnibus Law berlangsung? Katanya, ngurus itik ya? Oalah, sayang sekali, katanya bapak kangen didemo.

Contoh lainnya masih banyak lagi sih pak. Misal, ingin perkuat KPK yang nyatanya malah mencekik; janji kampanye penuntasan HAM, yang malah memperbanyak pelanggaran HAM; UU ITE yang direvisi agar berkeadilan, saya kira benar, lah kok, malah lebih hancur sih pak? Kita ini negara demokrasi lho, bisa-bisanya. Enggak habis thinking saya, Pak.

Eits tapi tenang Pak, saya masih percaya bapak kok, Mr. Joko Widodo. Dan sebagai Presiden yang saling mengerti dengan rakyatnya. Saya sarankan, waktu 2024 terlalu lama untuk bapak, dan sudah terlalu jemu bagi. Sekarang saja ya, bagaimana?

Tapi Pak, BTW, sewaktu nulis ini, tangan saya tremor, lho. Aneh, baru kali ini saya nulis tapi dagdigdug gitu. Padahal kan bapak sangat terbuka kan orangnya? Kenapa saya harus takut, terlebih negara kita kan demokrasi. Saya bebas bersuara, tanpa takut ada orang/pemerintah yang melarang, dan menguntit kayak tukang bakso yang bawa-bawa walkie talkie. Haha—maaf saya tertawa diketikan ini.

Kinerja bapak sih bagus, kalo kata bapak saya, yang penting hasilnya. Enggak apa-apa prosesnya dihujat juga. Tapi Bapak lebih keren daripada bapak saya, prosesnya gak keliatan, tapi hasilnya jelas. Kalau diibaratkan tuh kayak tangan kanan memberi, sedang tangan kiri tidak mengetahui. Nah itu Bapak banget, kinerjanya jelas, gak muluk-muluk, langsung gercep, beres semuanya, dan semaunya.

Kayak UU Minerba misalnya, saya yang tidak up to date atau apa, tapi pas sudah sah, saya baru tahu. “Lah bikinnya kapan? sosialisasinya enggak ada, tahu-tahu beres aja” begitu pikir saya waktu itu. Dan tentu saja saya positive thinking, bahwa ternyata ini yang disebut The Real Kerja Nyata juga transparan, sampai-sampai enggak kelihatan, ehh ups.

Bahkan saat pandemi pun, bapak sangat mengutamakan kami, bela-belain ngutang 900 Juta dollar AS, yang jika dikonversikan ke rupiah senilai 13,04 triliunn. Lagi-lagi, luar biasa. Saya yang sehari-hari pegang ceban atau bahkan cepek—itupun sangat langka terjadi­—mikir, 13 T bisa beli beras berapa karung ya? Bisa beli mie berapa dus ya? Atau bisa buat nafkahi berapa keluarga dan selama berapa tahun ya?

Pikiran saya enggak nyampe, wajar rakyat biasa. TAPI TETAP SAYA PPERCAYA, BAPAK BISA BAYAR KOK. Oh iya, Pak, penanganan covid kita sudah sampai mana ya? Saya liat di TV, berita-berita, sudah mulai beres katanya, Pak, pandemi ini. Terus juga itu korupsi Bansos apa kabar ya? Kok saya belum dengar lagi kabarnya, sidangnya, atau bahkan saya tidak melihat beliau pakai rompi oranye itu pak.

Lalu itu kok bisa pak, ada yang beri izin bikin tambang? Nah, tapi luas tambangnya tuh hampir setengah dari pulaunya, Pak. Gila banget kan? di luar nalar tenan. Dan, Pak, katanya juga, saya baca ya, ESDM nya ngelanggar UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Siapa ya pak, yang ngizinin itu. Bukan Bapak kan?

Aihh Pak, maaf maaf, maaf banget lagi ini. Saya tidak bermaksud menyalahkan dan berlagak bak akademisi atau dosen mana pun. Saya cuma mengutarakan apa yang saya lihat, rasakan, dan baca. Sekali lagi maaf pak.

Lagian saya tau, pasti juga Bapak menimbang baik dan buruknya suatu kebijakan. Saya yakin prioritas utama bapak adalah pengusaha, eh rakyat. Ya, tentu saja, pasti rakyat kecil seperti kami!

Mungkin cukup segitu Pak, curhatan saya yang sedikit. Mohon maaf mengganggu waktu kerja keras Bapak.

Oiya, Pak, salam ya ke pak Ma’ruf Amin. Saya kangen liat beliau. Salam juga buat itik-itiknya, Pak. Satu lagi, ingat lho, Pak, kalo hujan terus banjir, jangan salahin hujannya ya, Pak, bisa aja mungkin drainase ketahan sama beton-beton yang seharusnya pohon, hehe. Becanda deng.

Kalau surat saya enggak ada solusinya, yaa mau bagaimana lagi, hehe. Saya enggak bisa apa-apa. Anda dan kalian naik juga untuk mencari solusi kan? Terima kasih, saya dan kami para rakyat mencintai Anda, karenanya turun saja, ini terlalu berat, anda sekalian tak akan kuat, lebih baik mundur, bukan?

Tertanda, saya, Nurani.

Penulis: Sintesais